Rombongan
yang terdiri dari 18 orang (6 perempuan dan 12 pria) ini dipimpin oleh tiga orang pandita Buddha yaitu PMy.Supriyono,
PMy. Sumardianto, PMd. S.Ag
ito dan Mbah Suparno -- yang terakhir ini adalah tokoh dan sesepuh umat Buddha Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Rombongan prosesi Mundhut Tirta dari Dusun Kutorejo yang berjumlah 12 orang, pria maupun perempuan, seluruhnya mengenakan pakaian adat Jawa (kain jarit batik), sementara utusan dari vihara lainnya mengenakan pakaian sopan biasa.
ito dan Mbah Suparno -- yang terakhir ini adalah tokoh dan sesepuh umat Buddha Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Rombongan prosesi Mundhut Tirta dari Dusun Kutorejo yang berjumlah 12 orang, pria maupun perempuan, seluruhnya mengenakan pakaian adat Jawa (kain jarit batik), sementara utusan dari vihara lainnya mengenakan pakaian sopan biasa.
Berkumpul di Vihara Jati Dhammaloka,
Dusun Kutorejo, sekitar pukul delapan pagi mereka berangkat membelah kawasan hutan jati dengan menggunakan dua kendaraan roda empat.
Acara prosesi ritual Mundhut Tirta ini dimulai dari Situs Kawitan yang dianggap sebagai gapura dari kawasan suci Alaspurwo dimana rombongan melakukan Upacara
Kula Nuwun dengan bersimpuh yang dipimpin Mbah Suparno yang memanjatkan doa dalam Bahasa Jawa.
Dari
Situs Kawitan, masih menggunakan kendaraan, rombongan kemudian menujuke Pos Penjagaan
di Kucur dimana mereka memarkir kendaraan,
dan dari sana prosesi dilanjutkan dengan berjalan kaki
menelusuri jalan setapak sepanjang sekitar dua kilometer di dalam hutan yang
dilestarikan menuju mata air Goa Istana.
Sesampai di depan mata air, sambil berdiri Mbah Suparno mengucapkan doa dalam Bahasa Jawa
yang dilanjutkan dengan pembacaan Parita Suci dalam Bahasa Pali dipimpin oleh PMy.Supriyono.Setelah mengisi penuh beberapa jeriken dan botol,
di mata air suci tersebut para pengambil tirta juga mensucikan diri dengan membasuh wajah,
kepala, serta meneguk air dari mata air tersebut.
Prosesi ritual dilanjutkan dengan berdoa di dalam Goa Istana yang terletak di atas namun tak jauh dari mata air, melewati anak-anak tangga. Di dalam goa yang gelap para peziarah duduk bersimpuh di atas tikar yang sudah tersedia. Mbah Suparno memanjatkan doa dalam Bahasa Jawa, dan dilanjutkan dengan pembacaan Parita Suci dalam Bahasa Pali dipimpin oleh PMy.Supriyono.
Rombongan peziarah kemudian istirahat
di mulut goa sambil menikmati bekal karena waktu sudah menunjukkan pukul 11
siang untuk memberi kesempatan bagi peziarah yang akan tetap menjalani laku Delapan Sila dimana mulai
jam 12
siang tidak diperkenankan untuk mengkonsumsi makanan padat sampai keesokan harinya pukul enam pagi.
Untuk
kali ini, warga Buddhis menjalankan prosesi Mundhut Tirta dengan mengambil air
suci dari tiga mata air, selain mata air Goa Istana, juga dari mata air
Padepokan Selopenangkep (yang harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh dua
kilometer dari Goa Istana), dan dari mata air Kucurmas (yang
ditempuh dengan mendaki bukit sekitar 300 meter setelah para peziarah kembali berjalan
kaki sejauh empat kilometer ke arah kendaraan karena mata air Kucurmas terletak di
dalam hutan jati. Untuk prosesei Mundhut Tirta kali ini, para peziarah harus berjalan
kaki sejauh sembilan atau 10 kilometer.
Mengingat Alaspurwo adalah hutan yang
dianggap suci bagi para pemeluk agama-agama antroposentris di Jawa,
maka bukan hanya penganut Buddha (Jawa) saja yang mengambil air suci dari mata
air-mata air di Alaspurwo, namu numat Hindu (termasukdari Bali) maupun para penganut Agami Jawi serta penganut aliran kebatinan juga menganggapnya sebagai tempat
yang suci.
Menurut Mbah Suparno
yang merupakan sesepuh umat Buddha di Dusun Kutorejo (yang termasuk di
dalam kawasan TN Alaspurwo), Alaspurwo bisa diibaratkan sebagai ibu bagi umat manusia,
dan mata air yang ada di dalam Alaspurwo bisa diibaratkan sebagai air
susu ibu (bumi) yang menghidupi umat manusia. Adapun menurut Pmy.Supriyono yang
mengajar Agama Buddha di Kutorejo, upacara Mundhut Tirto ini karena sudah menjadi tradisi, setidaknya bagi umat Buddha di sekitar Alaspurwo, maka bisa diibaratkan sebagai biting (semat) pada conthong (bungkus dari daun pisang berbentuk kerucut) yang apabila lepas maka akan membuat conthong udhar (terurai) sehingga isinya morat-marit dan berantakan. Tradisi ini selaras dengan konsep Buddhisme yang menyakini bahwa umbul atau mata air dijaga oleh para dewa
yang dalam istilah agama-agama teosentris disebut dengan malaikat. Untuk merekalah doa dipanjatkan.
Semogasemuamahluk
di seluruh alam semesta, yang kecil maupun yang besar, yang dekat maupun yang jauh,
yang manusia maupun yang bukanmanusia, yang kelihatan maupun yang tidakkelihatan,
senantiasa berbahagia, damai, terbebas dari penderitaan dan permusuhan.
Dilaporkanoleh: Nusya Kuswantin.
selamat selamat semoga berbahagia dengan melaksanakan kegiatan suci in.
BalasHapusbagus pak
BalasHapusini yg ada di buku senjata cakra diatas wihara ya?
BalasHapus